Pembelajaran dari Korea Selatan tentang Penanganan COVID-19

Oleh : Riga Aditya Ariyanto

bemkmuny.com – Coronavirus Disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan COVID-19 merupakan hal yang sedang menjadi prioritas berbaga negara. Setiap negara ‘berlomba-lomba’ untuk memutus penyebaran pandemi ini. Virus SARS-CoV-2 merupakan nama virus yang menyebabkan COVID-19 yang pertama kali dilaporkan China kepada WHO bahwa terjadi penyakit sejenis pneumonia yang belum diketahui penyebabnya di Wuhan, Provinsi Hubei, China(1).

Setelah ditetapkan sebagai pandemi, berdasarkan data berbagai pemetaan, pandemi ini telah menyebar lebih luas. Pada 31 Januari 2020, penyakit ini telah menyebar secara cepat dan lebih luas. Tercatat terdapat 9720 orang terinfeksi di China dengan 213 kematian dan 106 orang di luar China (19 negara)(2). Salah satu negara yang terpapar COVID-19 adalah Korea Selatan. Korea Selatan berlokasi di timur China dan hanya berjarak 2,1 km dari China. Dengan rata rata perjalanan penerbangan hanya membutuhkan 1 jam 20 menit.

Pada 19 Januari 2020, Korea Selatan dilaporkan hanya memiliki 30 kasus dan tanpa adanya catatan kematian. Namun pada 18 Februari 2020 angkanya meningkat drastis menjadi lebih 2.300 kasus(3). Namun, saat ini apabila memperhatikan kurva dari perkembangan kasus COVID-19 di Korea Selatan, setiap harinya hanya ditemukan dibawah 10 kasus. Korea Selatan mampu menunjukkan adanya “flatten the curve” atau menekan pertambahan kasus yang ditunjukkan dalam kurva dikarenakan beberapa hal, seperti kebijakan contact tracing dan tes massal.

Lonjakan yang begitu besar pada 18 Februari 2020 menjadi 2.300 kasus, disebabkan oleh pulangnya seorang wanita dari Wuhan ke Bandara International Incheon, dikenal dengan patient 31 atau pasien 31. Sebelum ditetapkan positif pada 18 Februari 2020. Pasien 31 sempat melakukan beberapa kunjungan ke beberapa wilayah di Daegu. Ia juga menghadiri beberapa acara dengan jumlah peserta yang besar(4).

Dengan adanya kebijakan contact tracing, maka setiap masyarakat Korea Selatan dapat melihat berbagai wilayah yang perlu diperhatikan ataupun perlu dihindari yang dapat diakses melalui smartphone dan laptop serta terhubung dengan pesan otomatis kepada semua masyarakat Korea Selatan. Contacttracing tidak hanya memetakan terkait hal tempat yang pernah dikunjungi sebelum dinyatakan positif. Namun juga mode transportasi yang digunakan seperti bus subway atau kereta. Selain itu, Korea Centers for Disease Control & Prevention (KCDC) juga dapat dengan mudah memastikan penyebaran dari virus ini pada suatu wilayah dan melakukan penaganan atau pengawasan lebih baik pada daearah tersebut.

Gambar Pemetaan Contact Tracing Pasien Positif Corona(5)

Dengan pengalaman pada MERS 2015, Korea Selatan juga telah bersiap untuk memproduksi ribuan alat tes berstandar sebelum COVID-19 menyebar ke berbagai wilayah. Saat kasus COVID-19 mulai bertambah, setiap rumah sakit sudah siap dan mampu melakukan tes pada setiap masyarakat yang diduga terpapar SARS-CoV-2. Maka dari itu, Pasien 31 dapat dengan mudah diidentifikasi positif serta segera dilakukan pelacakan terhadap pergerakan dan orang-orang yang melakukan kontak langsung.

Dengan adanya tes secara massal yang bukan hanya dilakukan di seluruh wilayah Korea Selatan, maka data yang didapatkan semakin banyak. Dengan data ini, maka pemerintah Korea Selatan melakukan pemetaan atas penyebaran COVID-19 serta memetakan orang yang telah melakukan kontak langsung dengan pasien. Pada 30 Maret 2020, Korea Selatan telah berhasil melakukan tes pada 395.194 masyarakat Korea Selatan(6).

Dengan danya penggabungan antara data dari tes massal, data penginderaan jauh serta data pribadi yatu data perjelanan maka Korea Selatan dapat terhindar dari kebijakan lockdown yang dapat melumpuhkan perekonomian masyarakat serta menekan angka pertambahan kasus setiap harinya. Mungkin akan terlihat kurang tepat, dimana informasi prbadi berupa umur dan riwayat perjalanan ditampilan ke publik, namun pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa dengan mengeyampingkan kepentingan pribadi maka penyebaran COVID-19 dapat dilihat polanya, dilacak pergerakannya dan kemudian ditangani sebelum semakin parah.

Tim Penyunting

 

Biodata Singkat Penulis

Nama : Riga Aditya Ariyanto

Prodi / Angkatan : Pendidikan Geografi / 2018

Asal : Staff Kominfo BEM KM UNY 2020

 

Baca Artikel Sebelumnya : Pendidikan Investasi Masa Depan Bagi yang Punya Uang

 

Refrensi :

  1. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Jakarta Selatan : Kementerian Kesehatan RI.
  2. He, F., Deng, Y., & Li, W. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID‐19): What we know?. Journal of Medical Virology.
  3. Fleming, S. South Korea’s Foreign Minister explains how the country contained COVID-19. Dipublikasikan pada 31 Maret 2020. (https://www.weforum.org/agenda/2020/03/south-korea-covid-19-containment-testing/)
  4. Scott, Ddan Rani, M. How the US stacks up to other countries in confirmed coronavirus cases. Diperbarui pada 16 April 2020. (https://www.vox.com/policy-and-politics/2020/3/13/21178289/confirmed-coronavirus-cases-us-countries-italy-iran-singapore-hong-kong)
  5. Pemerintah Korea Selatan. CoronaMap. (https://coronamap.site/)
  6. Fleming, S. South Korea’s Foreign Minister explains how the country contained COVID-19. Dipublikasikan pada 31 Maret 2020 (https://www.weforum.org/agenda/2020/03/south-korea-covid-19-containment-testing/)

       

      Share This:
      Categories: Artikel

      0 Comments

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *