INSPIRASI UNY #1

“Menulis sebagai Dokumentasi dan Inspirasi”

“Kuliahlah dengan bahagia. Bergeraklah sesuai rute yang kamu buat untuk sampai ke tujuanmu.” – Muhammad Fajar Riyadi.

Muhammad Fajar Riyadi atau yang kerap disapa Uye, pemuda asal Mulya Jaya, Nibung, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, lahir pada bulan Februari 1998. Sekarang tengah menjalani kuliah di program studi Sastra Indonesia UNY angkatan 2017. Mempunyai hobi menulis dan membaca. Dengan hobinya tersebut, beliau telah menghasilkan beberapa karnya diantaranya :

  1. Alinea Baru (2017)
  2. Maya & Mira (2019)
  3. Aku Dilarang Jadi Hafidz (2020)

Terkadang, mencintai seseuatu tidak memerlukan alasan yang pasti, akan tetapi memerlukan sudut pandang tersendiri untuk memaknai kata mencintai tersebut. Sama halnya degan menulis. Menurut Uye, menulis dalah cara lain untuk mendokumentasikan sesuatu. Beliau ingin memberi bekas yang berarti dalam sejarah hidupnya, meski mungkin bukan dengan hal yang besar. Dilain waktu, beliau ingin menuliskan sesuatu yang tidak terlalu berguna bagi dirinya, akan tetapi dibutuhkan oleh orang lain. Dengan dorongan kebergunaan ini bisa menjadi energi yang besar untuk menulis.

Setiap buku yang ditulis mempunyai makna dan tujuannya masing-masing, baik itu untuk dalam diri pengarangnya sendiri ataupun untuk para pembacanya. The death of author. Yang pada dasarnya, setelah sebuah karya lahir, maka pengarang dianggap mati. Setiap pembaca berhak membuat interpretasi masing-masing. Dalam hal ini, pembaca adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarangnya, seperti dalam kutipan “..The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.” Uye berharap mereka yang membaca karnyanya bisa melakukan itu.

Waktu. Satu hal yang kerap kali menjadi kendala bagi sebagian orang. Dalam kesehariannya, Uye memandang bahwa membagi waktu adalah persoalan yang sangat penting. Menulis yang sebenarnya hanya untuk mengisi waktu kosong, kedepannya mungkin akan menjadi prioritas, atau mungkin akan seperti ini terus. Sebagai seorang yang hidup di asrama dan kampus dengan kegiatan yang sudah terjadwal, untuk itu beliau tidak perlu repot-repot untuk membagi waktu. Yang perlu dilakukan hanyalah “menggunakannya dengan baik”. Seperti yang diungkapkan oleh Ernest Agyemang Yeboah “Time is the pivot of life activities. When you miss a second, you miss a time in your lifetime! Time is undoubtedly the greatest asset one can ever acquire. The ultimate and real time is in the mind. Time is thought and thought is time. To mind your time, mind your thought! To mind your life, mind your time!”

Arthinkle Ingin Jadi Rumah Berbagi Informasi yang Inspiratif ...

Semua orang bebas untuk mempunyai anggapan tersendiri terhadap menulis. Dalam pandangan mereka menulis mungkin terlihat sebegai kegiatan yang menimbulkan kepayahan, kerepotan dan lain sebagainya. Akan tetapi bagi Uye, menulis adalah sebuah kenikmatan. Proses setelah menulislah yang terkadang ada suka dukanya. Seperti mengurus naskah, itu bukanlah persoalan yang gampang, dan disisi lain kesenangan beliau sebagai penulis tentu saja ketika tulisannya dibaca, atau lebih-lebih diapresiasi.

Pesan dari Uye untuk mahasiswa yang menjadi seorang penulis adalah dengan memahami arti dari penulis itu sendiri. Penulis adalah orang yang menulis. Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah dengan menulis, tidak ada cara lain.

Baca Juga Artikel sebelumnya : Pilih PSBB, Langkah Penanggulangan atau cari aman?

 

Share This:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *