Kemunculan Pendekatan Pendidikan The New Normal saat Pandemi COVID-19

Oleh : Aditia Pramudia Sunandar

Pendidikan tidak terjadi di dalam ruang antara mulut guru dan telinga murid. Pendidikan terjadi di ruang di dalam otak masing-masing.”-Salman Khan

bemkmuny.com – Pandemi COVID-19 telah menginfeksi ratusan negara yang ada di dunia, terhitung jutaan manusia telah terinfeksi oleh virus SARS-CoV-2 yang mengakibatkan keluhan di bagian pernapasan. Pandemi ini pertama kali bermula di Kota Wuhan, China dan menyebar sejak akhir tahun 2019. Pandemi ini telah menyebabkan berbagai negara menjadi transmisi penyebar dari virus SARS-CoV-2. Indonesia telah menjadi negara yang terinfeksi SARS-CoV-2 sejak diumumkan bahwa ada dua warga negara Indonesia yang terinfeksi pada tanggal 2 Maret 2020. Kemudian WHO (World Health Organization) menyatakan wabah ini sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020. Dasar dari dijadikannya wabah SARS-CoV-2 sebagai pandemi global karena penyebarannya yang begitu masif dan cepat hanya dalam waktu tiga bulan dan telah menyebar ke ratusan negara.

 

Kebijakan yang tegas dibutuhkan untuk memperlambat laju kenaikan kurva terinfeksi di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan agar penyebaran virus tidak meluas dan dampak yang diakibatkan oleh wabah ini dapat diminimalisir. Dampak dari pandemi ini telah menyasar berbagai sektor, mulai dari sektor ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Beberapa negara di dunia telah mengambil kebijakan lockdown sebagai upaya nyata agar virus ini tidak semakin menyebar. Sedangkan, pemerintah Indonesia kini memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang bertujuan untuk membatasi pergerakan masyarakat terutama mengurangi perkumpulan. Kebijakan ini telah mengubah aktivitas masyarakat karena berwujud setiap sekolah diliburkan, rumah makan ditutup, perkantoran dan pekerjaan semuanya dirumahkan terkecuali pekerjaan yang memang harus dilakukan secara langsung. Namun, secara pasti bahwa pandemi ini telah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang paling fundamental.

 

Pembatasan Sosial Berskala Besar di Indonesia ataupun lockdown yang diterapkan oleh negara maju akan berdampak memunculkan sebuah kebiasaan baru. Kebiasaan baru disebut dengan “The New Normal”, istilah ini dicetuskan oleh seorang investor teknologi bernama Rogel McNamee yang berarti suatu waktu dimana kemungkinan besar setiap orang bersedia bermain dengan aturan baru untuk jangka panjang(1).The New Normal ini akan mendatangkan kebiasaan baru untuk manusia di dunia, bahkan ketika pandemi berakhir diperkirakan setiap orang tetap akan menghindari keramaian, perkembangan teknologi informasi semakin cepat, physical distancing tetap diterapkan, bahkan video conference pun dianggap masih akan digunakan oleh masyarakat(2).Kondisi The New Normal yang juga terus berlanjut adalah pekerjaan yang masih dikerjakan dari rumah, masih kosongnya tempat-tempat umum seperti sekolah yang berubah konsep menjadi Home Schooling dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

 

Pada hakikatnya, pembelajaran melibatkan interaksi antara guru dan murid serta mengedepankan beberapa komponen dalam prosesnya. Pembelajaran merupakan sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan satu sama lain secara komprehensif. Adapun komponen yang harus ada dalam suatu sistem pembelajaran yakni tujuan, materi, metode, dan evaluasi (Abdullah, 2017). Pada kondisi ini, pemerintah telah mengeluarkan anjuran physical distancing yang diteruskan dengan PSBB yang kemudian diterapkan pada segala aspek termasuk pendidikan. Pembelajaran Jarak Jauh merupakan wujud dari PSBB di sektor pendidikan, sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berupa pelajar yang datang ke sekolah atau universitas pun telah dibatasi guna menghentikan penyebaran virus SARS-CoV-2. Penerapan dari Pembelajaran Jarak Jauh tidak begitu mudah karena masih diperlukannya modal seperti kemampuan literasi teknologi terutama dalam mengoperasikan kompoter dan internet. Selain itu, akses jaringan internet perlu dijamin oleh pemerintah agar sistem Pembelajaran Jarak Jauh dapat tercapai. Nyatanya sekarang adalah Indonesia memasuki era Revolusi Industri 4.0 lebih cepat dari pada persiapan untuk menuju kesana.

 

Bagaimana tidak hal ini menjadi keluhan para guru, selain dari fasilitas yang belum mendukung, mereka pun belum siap untuk menerima disrupsi dari teknologi karena usia mereka yang termasuk baby boomers. Bahkan anggapan bahwa semua wilayah Indonesia sudah dapat diakses internet pun masih dipertanyakan. Kementerian Komunikasi dan Informasi melakukan pembangunan jaringan internet dengan nama Palapa Ring yang mencapai panjang 12.148 km yang terbagi menjadi 3 wilayah yakni, Palapa Ring paket barat 2.275 km dan Palapa Ring paket tengah 2.995 km serta Palapa Ring paket timur 6.878 km baru mencapai 89.39% berbeda dengan paket lainnya yang telah mencapai 100%(3). Data ini menunjukkan bahwa taraf akses internet 4G dengan kecepatan hingga 30 Mbps belum dapat dirasakan di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, Pembelajaran Jarak Jauh juga memaksa guru dan murid untuk menggunakan aplikasi video konferens yang boros dengan sinyal yang lelet. Aplikasi yang sering digunakan dalam proses pembalajaran jarak jauh yakni Zoom, Google Hangout, Webex dan Skype. Namun, aplikasi-aplikasi ini menjadi lintah kuota paling teratas selama pandemi. Posisi penggunaan kuota paling rendah ditempati oleh Zoom yang perlu menghabiskan 540 MB agar dapat beroperasi selama satu jam dan posisi teratas ditempati oleh Webex(4).

Keterbutuhan akan akses internet dan juga kemampuan dalam memenuhi gawai dengan kuota berlimpah memang membutuhkan cuan yang tidak sedikit. Sehingga Pembelajaran Jarak Jauh kian menyayat para guru dan murid dalam menerapkan physical distancing dalam bidang pendidikan. Permasalahan lain adalah anggapan bahwa PJJ telah menghilangkan transfer of value antara guru dan murid. Walaupun Pembelajaran Jarak Jauh sudah dikenalkan sejak lama dalam bentuk E-learning namun proses dalam mengakses teknologi digital membutuhkan waktu lama sehingga ada beberapa nilai yang tidak tersampai antara guru dan murid. Tapi, inilah yang disebut dengan The New Normal, melakukan sesuatu yang tidak biasa hingga menjadi kebiasaan. Kini, sistem pembelajaran telah berubah dari memperhatikan guru melalui bilik-bilik konvensional menjadi labirin-labirin digital dengan mengeleminasi jarak, kegagapan teknologi, dan ketidakmauan untuk menerima perkembangan informasi. Lebih dari 50 juta pelajar mulai Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi kini beradaptasi untuk mengeliminasi hal-hal yang tidak pernah dialami sebelumnya. Pandemi telah mengubah sebuah sistem pembelajaran yang dulu dianggap tidak normal menjadi sebuah The New Normal. Sesuatu yang baru, yang akan menjadi hal biasa saat kondisi pandemi ini selesai bahkan menjadi perihal alternative ketika pembelajaran ini dianggap lebih efisien.

 

Sebuah pendekatan pendidikan yang baru akhirnya lahir dari sebuah keterpaksaan, namun rasanya ini berbeda dengan E-Learning yang lebih tersistem. The New Normal of Educational Approach telah menjadi bukti tentang hal yang impossible menjadi possible. Pendekatan baru ini didukung oleh teori utama yang mendukung ancestor-nya dahulu yakni E-learning. Teori pembelajaran konstruktivisme menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu dibangun oleh murid melalui proses belajar, bukan dipindahkan dari guru ke murid (Bilfaqih, 2015). Sering kita sebut konsep seperti ini dengan sebutan Student Centered Learning. Pembelajaran berpusat pada murid agar dapat mencari sumber informasi mereka sendiri dan mengedepankan pola pikir logika mereka. Sayangnya, guru pun ternyata memutar kepala mereka untuk mengembangkan konsep ini, sejatinya pembelajaran yang berpusat kepada murid pun masih dibutuhkan pembimbingan dikelas. Peranan guru diperlukan untuk hadir dalam membimbing murid. Tapi, pendekatan The New Normal ini akhirnya menunjukkan bahwa guru pun berperan penting dalam proses pembelajaran.

 

Namun, ada satu komponen lain yang berperan penting dalam pendekatan pendidikan The New Normal. Inilah sedikit yang membedakannya dengan E-Learning, yakni orang tua. Kini, orang tua punya waktu lebih banyak dengan anak-anaknya. Orang tua bertugas mengisi waktu anak yang kosong, dan memastikan kalau anaknya tetap belajar walaupun tidak disekolah. Orang tua memegang key of success dalam sistem ini agar dapat melalui pandemi COVID-19 yang menginfeksi sektor pendidikan. Orang tua harus beradaptasi atas perubahan ini, yang mana dahulu hanya sebagai reminder bagi anak mereka ketika pulang sekolah menjadi mentor bagi mereka saat dirumah. Selain dari key of success dalam sistem Pembelajaran Jarak Jauh, orang tua pun melakukan pendekatan The New Normal terhadap anak mereka sendiri yakni membangun value yang sebelumnya dibangun di bilik-bilik konvensional. Orang tua pun kini berubah menjadi pahlawan atau superhero dari anaknya dalam membangun karakter. Kebiasaan ini telah merubah tingkah laku orang tua yang awalnya mempercayai guru menjadi mereka yang melakukan sendiri apa yang mereka percayakan.

 

Pada akhirnya, pendekatan pendidikan The New Normal telah mengaitkan semua komponen yang mulai hilang terkikis disrupsi sosial di masa sebelum pandemi. Guru kini berubah menjadi technical operational, murid menjadi motor of education, dan orang tua menjadi superhero bagi anak mereka. Pendekatan seperti ini yang dapat membantu murid dalam belajar mempersiapkan diri mereka agar dapat melalui pandemi dengan pola pikir yang positif dan dengan kompetensi yang tetap terasah tanpa perlu disepuh di bilik-bilik konvensional. Bahkan, setelah pandemi ini berakhir pun, maka guru, orang tua, dan murid akan menemukan peranannya dalam pendidikan dan bagaimana mereka beradaptasi terhadap kondisi hasil dari keterpaksaan. Dan yang terakhir, teknologi akan menemukan tempatnya di dunia pendidikan dengan mengeleminasi komponen transfer of value yang terus membatasinya.

 

 

Daftar Pustaka :

1Kompasiana.com. (2020, 2 Mei). Memahami Istilah “New Normal”. Diakses pada 9 Mei 2020, dari https://www.kompasiana.com/hpinstitute/5ead17b5d541df3e62051864/memahami-istilah-new-normal#

2 Medcom.id (2020, 8 Mei). Menyambut New Normal. Diakses pada 10 Mei 2020, dari https://www.medcom.id/ekonomi/analisis/9K50agyk-menyambut-new-normal

3 Databoks.katadata.co.id. (2019, 17 Januari). Berapa Panjang Jaringan Internet Palapa Ring. Diakses pada 12 Mei 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/17/berapa-panjang-jaringan-internet-palapa-ring

4 Cnnindonesia.com. (2020, 31 Maret). 4 Aplikasi Video Conference Yang Irit Dan Boros Data. Diakses pada 12 Mei 2020, dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200330191529-185-488422/4-aplikasi-video-conference-yang-irit-dan-boros-data

 

Sumber Rujukan :

Abdulla. 2017. Pendekatan dan Model Pembelajaran yang Mengaktifkan Siswa. Edureligia. 1(1).

Bilfaqih, Yusuf. 2015. Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring. Yogyakarta : Deepublish.

 

TIM Editor

 

Biografi Singkat Penulis :

Nama : Aditia Pramudia Sunandar

Prodi/Angkatan : Pendidikan Biologi / 2017

Menteri Kajian Eksternal BEM KM UNY 2020

Share This:
Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *