“Aku hanya harus bangkit satu kali lebih banyak dari jumlah jatuhku. Aku boleh saja jatuh seratus kali, tapi aku akan tampil sebagai pemenang, asalkan aku bangkit seratus satu kali, atau seribu satu kali” ­– Mario Teguh.

Ade Setiawan, atau yang kerap disapa Ade, pemuda asal Kotabumi, Lampung Utara, Provinsi Lampung yang lahir pada bulan Juni 1995. Seorang alumni program studi Fisika Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2013 yang sekarang bertempat tinggal di Desa Jatingarang Lor, Kulon Progo. Ade adalah seorang owner dari usaha minuman teh hijau yang ia rintis dengan kerja kerasnya sendiri yaitu Sencha.

Cerita inspiratif kali ini bermula pada tahun 2014 lebih tepatnya saat semester 2. Ade sudah memulai karir pertamanya sebagai seorang tukang ojek. Dalam pikirannya yang ada hanyalah bagaimana caranya untuk dapat bertahan hidup dengan kemampuan yang dia miliki tanpa bantuan dari orang tua. Alasannya bukan karena faktor ekonomi keluarga yang menyempit, akan tetapi Ade berusaha agar mandiri. Bekerja menjadi tukang ojek bukan berarti tidak ada hambatan. Sering kali ia beradu argumen dengan tukang ojek yang lebih berpengalaman dan mempunyai kekuasaan. Ia memilih untuk mundur dari pekerjaan tersebut dan kembali menjalani perkuliahan biasa.

Jalan lain diambil oleh Ade. Ia mencoba menjadi guru privat selama satu tahun penuh. Akan tetapi ia tidak mememukan kenyamanan atas apa yang dikerjakannya. Lalu ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai instansi maupun perusahaan kecil. Ia diterima di salah satu perusahaan makanan di Yogyakarta dan ditempatkan sebagai Staff Marketing di anak perusahaannya.

Perkuliahan semester 4 dengan jadwal yang padat menjadikan masa itu sebagai hari-hari yang sulit bagi Ade. Dimana ia harus berkuliah dari pukul 07.00 – 15.30 dan pukul 16.00 – 24.00 harus memenuhi amanah bekerja selama 8 jam dalam 1 hari. Perkuliahan Ade menjadi hancur dengan seringnya tidur di kelas dan nilai yang tidak terkendali. Menjadi Staff Marketing atau yang kerap disebut sales keliling diharuskan untuk bertemu dengan para Manager maupun Officer untuk dapat meloloskan produk perusahaannya di gerai mereka. Selang beberapa waktu Ade memutuskan untuk berhenti karena ketidakpercayaan Direktur perusahaan terhadap dirinya karena menjadikannya kambing hitam atas korupsi yang Direktur itu lakukan.

Setelah lelah dengan karirnya dan banyak berurusan dengan akademisi, Ade memutuskan fokus 1 tahun untuk memperbaiki nilai-nilainya yang hancur. Hingga tahun berikutnya ia memulai kembali usahanya di kantin Bimara dengan bermodal uang dari penjualan handphone android miliknya. Ia menggunakan modal tersebut untuk membeli satu buah blander untuk memulai usaha minuman cokelat. Belum sempat mendapatkan kembali modalnya, Ade terlebih dahulu tersingkir oleh pesaingnya. Alhasil Ade tidak memiliki alat untuk mengakses informasi melalui WhatsApp, hingga setengah tahun berjalan ia masih menyimpan sakit hati pada pesaingnya kala itu.

Berganti hari, Ade kembali menemukan peluang untuk bisa bekerja di sebuah café di daerah Jakal KM 12. Dengan beban kuliah yang ia miliki mengharuskannya mengambil sift sore sebagai seorang waiters. Ia memulai pekerjaannya itu pada pukul 18.00 – 02.00 dini hari. Ia mempertaruhkan hampir seluruh salat tarawih dan sahur di bulan suci Ramadhan yang membuatnya sakit hati. Setalah bulan Ramadhan berlalu, café tersebut mengalami kebangkrutan dan mengharuskannya untuk keluar.

Setalah Ade menjalani masa KKN, ia kembali memulai usahanya di kantin Bimara. Memutuskan untuk berjualan minuman teh hijau. Perlahan meniti karir disana dengan memperoleh Rp3.000 sebagai laba bersih yang didapat. Sangat kurang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, sehingga ia kembali menjadi pelayan kaki lima di sebuah warung lesehan Daerah Mandala Krida. Memulai pekerjaannya pukul 5 sore dan berakhir pukul 1 dini hari. Mendapatkan gaji sebesar Rp1,1 juta belum bisa untuk membiayai hidupnya, mulai dari kuliah, sewa kos-kosan maupun makan. Lalu Ade mencoba untuk melamar pekerjaan di sebuah Lembaga outbound di Daerah Pakem Turi KM 15. Ia menjalani pekerjaan tersebut 2 hari selama sepekan.

Tidak lama Ade mendapatkan tawaran untuk berjualan di kantin kejujuran dan ia mencoba menjadi seorang reseller susu sapi dan tetap menjalankan usaha teh hijaunya. Semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan usaha yang telah ia mulai. Karena ingin menambah pengalamannya, Ade mulai bekerja sebagai crew teh Tarik di Sunday Morning.

Ade melalukan semua pekerjaan itu dalam satu pekan, dimana ia harus mengambil susu sapi setiap jam 5 pagi lalu meletakkannya di kantin kejujuran dan kantin Bimara. Di waktu kosong perkuliahan ia manfaatkan untuk mengerjakan skripsi atau bekerja di Lembaga outbound hingga sore hari. Setelah itu bekerja sebagai pelayan hingga dini hari dan untuk hari Minggu harus sudah siap jam 5.30 di Sunday Morning untuk bekerja dengan orang lain.

Dengan semua pekerjaan Ade kala itu, kebutuhan akan hidup dan perkuliahannya terpenuhi. Ia hanya berpikir untuk melakukan semua itu hingga usahanya berangsur naik dan fokus pada usahanya sendiri. Sehingga perlahan ia melepaskan pekerjaan sebagai pelayan kaki lima, lalu bekerja di Sunday Morning, dan akhirnya fokus pada usahanya dan bekerja sampingan sebagai pemandu outbound.

Pada tahun 2018, Ade mendapatkan peluang untuk dapat mengembangkan usahanya di luar kantin fakultas yaitu food court. Masih dengan pekerjaan sebagai pemandu outbound, berjualan di Bimara dan kantin kejujuran. Dengan keadaan ekomoni yang stabil, ia mulai fokus mengerjakan tugas akhir skripsi dengan biaya yang tidak perlu dipikirkan lagi meskipun telah mencapai semester 12 kala itu.

Dan hari itu Ade sudah tidak bermimpi lagi untuk melanjutkan studi maupun menjadi seorang ahli di bidang sains, karena kebutuhan ekonominya terubah dari tujuan awal. Hari itu sencha sebagai jalan penyelamatnya dan ia harus menjaganya kembali di saat ini maupun kedepan, dan memutuskan terus berjalan di bidang usaha dan menekuninya tentu bersama sencha. Ia menganggapnya sebagai sesuatu yang hidup meskipun hanya sebuah brand semata.

Pada tahun 2019, setelah dinyatakan lulus Ade memutuskan untuk menikah dan terus berwirausaha. Ia berhenti menjadi pemandu outbound, usaha di bimara, maupun kantin kejujuran dan fokus pada usaha teh hijaunya di food courd UNY.

Pesan Ade kepada teman – teman mahasiswa adalah untuk terus yakin pada diri sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap masalah itu ada, selalu ada resiko, dan bagaimana cara melawannya yaitu dengan terus jalan kedepan, dan jangan menghindar.

Share This:
Categories: Inspirasi UNY

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *