Hidup Berdampingan dengan COVID-19?

Ukhtina Al Mumtahanah

S1 Pendidikan IPA, FKIP, Universitas Tidar

Ukhtina.hanna@gmail.com

Jokowi: Imbauan untuk Tidak Mudik Belum Cukup, Harus Ada Langkah ...

bemkmuny.com – “WHO menyatakan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Mengapa? Karena ada potensi bahwa virus ini tidak akan segara menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat. Berdampingan bukan berati menyerah, tapi menyesuaikan diri. Justru dari situlah titik tolak menuju tatanan kehidupan baru masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali sambil tetap melawan ancaman COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pemerintah terus memperhatikan data dan fakta di lapangan untuk menentukan periode terbaik bagi masyarakat agar kembali produktif namun tetap aman dari COVID-19. Keselamatan masyrakat tetap harus jadi prioritas.” Joko Widodo, Presiden RI dalam cuitannya di media sosial Twitter (16/05/2020).

Berikut update COVID-19 dunia per Minggu 17 Mei 2020, 4,7 juta kasus. Dilansir dari worldometers.info terdapat 4,736,389 kasus aktif di dunia dengan 2,558,881 kasus ringan dan 44,844 kasus serius. Sedangkan, angka kematian karena virus orona hingga kini bertambah menjadi 313,545 dan terdapat 1,819,119 pasien yang dikonfirmasi sembuh. Amerika Serikat masih menepati posisi pertama dengan kasus virus corona terbanyak di dunia. Indonesia hingga saat ini terdapat 17.514 kasus dengan angka kematian 1.148 dan 4.129 pasien yang terkonfirmasi sembuh dari COVID-19. (Kemkes.go.id)

Berbagai upaya telah pemerintah lakukan mulai dari Sosial Distancing, Physical Distancing, hingga penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, lockdown atau karantina wilayah bukan menjadi opsi untuk penanganan COVID-19. Hal ini di sampaikan oleh Doni Manardo, Kepala BNPB sekaligus Ketua Percepatan Penanganan COVID-19 melalui video yang diunggah dalam akun twitter @BNPB_Indonesia. Swedia telah menerapkan kebijakan non-lockdown, dalam artian membiarkan dengan sengaja populasinya terpapar dan kemudian tercipta antibodi natural (natural immunity) dalam jumlah besar. Penerapanya dilakuakan secara bertahap, maka transmisi penyebaran COVID-19 terputus dan membuat COVID-19 tidak tersebar lagi. istilah ini disebut dengan herd immunity (kekebalan kelompok), yang pada akhir-akhir ini menjadi trending pencarian di google.

Mengenal Herd immunity (kekebalan kelompok)

Sebelum mengenal lebih jauh terkait herd immunity, perlu kita ketahui bahwasannya ada 2 cara untuk menghentikan COVID-19 untuk selamanya yaitu pertama pembatasan luar biasa pada segala aktivitas kehidupan, serta pengujian secara terus menerus untuk menghentikan transmisi penyebaran virus. Namun, hal tersebut sudah tidak memungkinkan lagi dikarenakan penyebaran virus yang cepat dan terdapat dilebih dari 100 negara. Kedua yaitu dengan herd immunity atau terbentuknya antibodi secara natural. Herd immunity ini terbagi menjadi dua cara yaitu menggunakan vaksin dan secara alami, dengan membiarkan 70% populasi terinfeksi virus sehingga akan mendapatkan kekebalan antibodi secara alami.

Pemberian vaksin (imunisasi) secara luas atau pada sekelompok lingkaran orang yang terkena kasus infeksi virus dapat membentuk kekebalan kelompok. Beberapa penyakit seperti cacar dapat diberantas dan polio hampir menghilang. Untuk penerapan herd immunity dengan menggunakan vaksin dalam menangani COVID-19 ini, tidak dapat digunakan dalam waktu dekat karena vaksin yang belum ditemukan dan masih dalam proses pembuatan. Dilansir dari Huffington post (29/04/2020) kurang lebih membutuhkan waktu selama 12-18 bulan, hal ini diasumsikan bahwa setiap fase uji coba berjalan sesuai dengan rencana menurut James Cutrell Direktur Program Persatuan Penyakit Menular di University of Texas Southwestern Medical Center Dallas, Amerika Serikat.

Maka, penerapan herd immunity yang memungkinkan untuk COVID-19 adalah kekebalan kelompok secara alami. Hal serupa pernah terjadi pada 2015 oleh virus Zika yang ditularkan oleh nyamuk berkaitan dengan kelainan kelahiran. Pada tahun 2017, tidak ada yang dikhawatirkan. Penelitian dari Brazil menemukan dengan memeriksa sampel darah bahwa 63% populasi di Kota Pantai Timur laut Salvador sudah terinfeksi virus Zika, maka peneliti berspekualsi bahwa kekebalan kelompok telah menghentikan wabah ini. Agar kekebalan kelompok dapat bertahan, orang harus menjadi resisten setelah terinfeksi artinya orang yang terinfeksi virus kembali pulih dan menjadi kebal terhadap penyakit itu begitulah yang terjadi pada kuman. Pasien yang telah pulih dari COVID-19 memungkinkan mereka sekarang resisten walaupun tingkat kekebalan yang belum diketahui. Beberapa virus seperti flu dapat menemukan cara untuk terus berubah sehingga kekebalan terhadap kuman musiman seperti itu tidak lengkap.

 

 

 

 

 

 

Kekebalan kelompok secara alami yaitu dengan menginfeksikan 70% dari populasi penduduk, dengan jumlah penduduk Indonesia 271 juta jiwa (proyeksi 2020) maka Indonesia perlu membentuk rakyatnya terinfeksi sebesar 182 juta jiwa dan membentuk herd immunity. Dilansir dari tirto.id (3/4/2020) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk lansia berkisar 10%, dari jumlah tersebut yaitu 18,2 juta termasuk dalam infeksi yang mendapatkan penanganan khusus. Jumlah tersebut belum ditambah kelompok rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dll. Prosentase kematian Indonesia hingga hari ini mencapai 6,55% Dihitung dari jumlah pasien meninggal dibagi dengan kasus positif dikalikan 100 persen, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 11 juta jiwa. Dampak dari penerapan herd immunity yaitu dapat terjadi kematian massal dan kehilangan jumlah penduduk yang cukup signifikan serta rumah sakit akan kewalahan dalam menangani pasien. Bagi manusia yang memiliki sistem imun kuat maka dapat bertahan hidup dan bagi yang tidak memiliki sistem imun yang kuat maka akan tereliminasi. Namun, sisi lain dari herd immunity yaitu perekonomian terus berjalan dan terbentuk manusia baru yang resisten terhadap penyakit serta pandemi COVID-19 dapat berakhir dengan cepat.

Akankah Indonesia menerapkan herd immunity untuk penanganan COVID-19?

Seperti statement dari Presiden RI, Joko Widodo pada cuitanya di media sosial twitter yaitu hidup berdampingan dengan COVID-19 dan memulai tatanan kehidupan baru masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali sambil tetap melawan ancaman COVID-19. Hal tersebut didukung dengan kajian skenario hidup normal untuk pemulihan ekonomi oleh Kementrian Perekonomian dilansir dari CNBC Indonesia (8/5/2020).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hal ini memungkinkan untuk penerapan herd immunity secara berkala. Namun, pihak istana tidak meyatakan bahwa berdampingan dengan COVID-19 bukan berati herd immunity melainkan berada dalam keadaan new normal. Seperti yang dikatakan oleh Wiku Adisasmita Ketua Tim Pakar Gugus Tugas percepatan penanganan COVID-19, new normal yang dimaksud adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan COVID-19. Apabila nantinya penerapan herd immunity terealisasi di Indonesia maka yang perlu dipersiapkan untuk menjadi bagian dari herd immunity yaitu pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan merubah gaya hidup dan lingkungan menjadi hidup sehat. Semoga dengan adanya pandemi COVID-19 menjadi satu langkah baru untuk merubah pola hidup masyarakat Indonesia.

Salam Bahagia!

 

Tim Editor

 

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019. Jakarta : Badan Pusat Statistik.

Birch, Jenna. (2020). Why It Takes So Long To Make A Coronavirus Vaccine di akses pada https://www.huffpost.com/entry/why-coronavirus-vaccine-takes-so-long_l_5ea868fbc5b66a3cfefa2a36

Ferguson, N., Laydon, D., Nedjati Gilani, G., Imai, N., Ainslie, K., Baguelin, M., … & Dighe, A. (2020). Report 9: Impact of non-pharmaceutical interventions (NPIs) to reduce COVID19 mortality and healthcare demand.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Jumlah Terpapar Covid-19 di Indonesia di akses https://www.kemkes.go.id/

Naafs, M. A. (2018). Herd Immunity: A Realistic Target?. Biomed J Sci & Tech Res, 9, 12.

Netto, E. M., Moreira-Soto, A., Pedroso, C., Höser, C., Funk, S., Kucharski, A. J., … & Vaz, S. N. (2017). High Zika virus seroprevalence in Salvador, northeastern Brazil limits the potential for further outbreaks. MBio, 8(6), e01390-17.

Pratama, Arie. (2020). Dimulai Juni, Ini Timeline & Skenario ‘Hidup Normal’ di RI di akses pada https://www.cnbcindonesia.com/news/20200508011226-16-156978/dimulai-juni-ini-timeline-skenario-hidup-normal-di-ri

Regaldo, Antonio. (2020). What is herd immunity and can it stop the coronavirus? di https://www.technologyreview.com/2020/03/17/905244/what-is-herd-immunity-and-can-it-stop-the-coronavirus/ diakses 14 Mei 2020.

Widia Putri, Aditya. (2020). 16 Juta Orang Akan Mati Jika Herd Immunity Alamiah Diterapkan di akses pada https://tirto.id/16-juta-orang-akan-mati-jika-herd-immunity-alamiah-diterapkan-eKqJ

Worldometer. (2020). COVID-19 CORONAVIRUS PANDEMIC di akses https://www.worldometers.info/coronavirus/

 

Share This:
Categories: Jendela Isu

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *