Berhenti Menstigmatisasi Korban ‘Broken Home’

Oleh : Putri Milenia Gusdian

bemkmuny.com – Apa yang tersirat ketika teman-teman mendengar kata-kata ‘broken home’? Saya bisa menebak yang tersirat dipikiran teman-teman mungkin bukan sesuatu yang positif. Tak ada yang dapat menyangkal bahwa berasal dari orang tua yang berpisah, keluarga yang disfungsional, tidak ideal, atau yang biasa disebut ‘broken home’ membawa stigma negatif. Orang-orang cenderung memandang rendah mereka yang berasal dari keluarga semacam itu.

Sebagai orang yang berasal dari keluarga yang seperti itu, saya kerap mendengar kalimat-kalimat menjatuhkan dan meremehkan dari orang-orang tentang latar belakang itu, meski tidak ditujukan langsung kepada saya. Namun, saya memiliki dan cukup banyak mengenal orang-orang dengan latar belakang yang sama yang kerap merasakan langsung stigmatisasi itu. Misalnya, ketika ada suatu perbuatan yang dinilai salah oleh society, mereka akan disalahkan justru atas latar belakangnya, bukan atas perbuatan buruk itu sendiri. “Oh, pantas saja, wong ibu bapaknya saja pisah, kok,” “Oalah, diasuh single parent, to,” dan sejenisnya. Di lain waktu orang-orang juga merasa cukup bertanggung jawab untuk memberitahu korban broken home itu bagaimana harus menjalani hidup. Orang-orang merasa perlu memperbaiki mereka.

Belum lagi ketika kami sudah cukup umur untuk menemukan pasangan dan menikah, kami merasakan tekanan yang disebabkan oleh latar belakang keluarga itu dengan lebih jelas lagi. Banyak orang berpikir bahwa anak-anak dari keluarga yang tidak ideal tidak memiliki nilai-nilai dan moral yang diperlukan untuk pernikahan yang sehat dan langgeng. Kami tidak memiliki cukup dari apa yang orang sebut “bibit, bebet, bobot.” Mereka tidak hanya memandang rendah kami karena kehadiran orang tua kami yang tidak menguntungkan, mereka juga percaya bahwa itu akan memengaruhi hubungan romantis kami sendiri di masa depan.

Orang-orang melihat sejarah keluarga kami dan menganggap bahwa itu akan mengakibatkan sebuah kegagalan. Saya sering mendengar komentar seperti “dia menggunakan narkoba karena dia berasal dari keluarga yang berantakan,” atau “dia sering berulah di kampus dan jarang masuk karena ibu tunggalnya tidak terlalu peduli untuk membesarkannya,” “jangan pilih dia sebagai pasangan, latar belakang keluarganya kacau,” atau “tidak heran mereka bercerai, suaminya saja korban ‘broken home’.”

Teman-teman, kita tidak perlu berasal dari orang tua yang berpisah, rumah yang tidak harmonis, atau keluarga yang tidak ideal untuk melakukan perbuatan yang buruk atau untuk melakukan kejahatan. Kita tidak perlu dibesarkan oleh seorang ibu tunggal untuk membuat seorang anak jarang datang atau berulah di kampus. Kita semua rentan terhadap kesalahan. Berhenti menyalahkan latar belakang keluarga. Meski saya paham bahwa keluarga merupakan pendidikan pertama bagi seorang manusia, tapi dalam kasus ini, apakah anak-anak dengan latar belakang keluarga seperti itu menginginkannya? Tidak. Saya hanya ingin society berhenti menstigmatisasi.

Saya paham betul, perbuatan buruk di luar sana seperti, bermotor ugal-ugalan, memakai obat-obatan terlarang, seks bebas, hobi tauran, atau beberapa hal lainnya adalah yang sangat dominan dikaitkan dengan ‘broken home’. Tapi teman-teman, tahu tidak? Kita itu bisa memilih respon apa yang akan kita keluarkan dalam menanggapi sesuatu. In this case, ada dua tipe korban ‘broken home’. Yakni mereka yang memilih merespon negatif dengan semakin kehilangan diri mereka sendiri dengan merusak diri mereka, karena berpikir tidak ada lagi yang peduli pada mereka. Hal itu pun secara psikologis merupakan cara mereka untuk ‘meminta kasih sayang’ dan ingin diperhatikan, bukan juga tanpa alasan dan layak disalahkan. Dan yang kedua yang memilih untuk merespon positif situasi yang tidak mengenakkan itu, yang justru menjadikannya motivasi untuk tetap dilihat ‘sama’ dengan yang tidak berasal dari keluarga yang tidak ideal. Mereka semakin peduli pada diri sendiri dan memilih untuk terus berkarya tanpa melihat masa lalu dan latar belakang yang berbeda itu.

‘Broken home’ atau keluarga yang tidak ideal, adalah produk dari pilihan yang mungkin kurang bijaksana dari orang tua. Tetapi kegagalan orang tua seharusnya tidak membuat kita menilai anak-anak yang terlibat. Kita semua sama, kita adalah individu yang unik. Kita memiliki pemikiran yang berbeda, kepribadian yang berbeda, dan tujuan hidup yang berbeda.

Setiap perpisahan orang tua atau rumah yang peran keluarganya tidak fungsional itu sama traumanya bagi semua orang yang terlibat. Meninggalkan bekas luka. Tentu saja ada dampak psikologis tumbuh dengan orang tua yang berpisah atau disfungsional itu. Namun, kembali lagi, kita semua punya pilihan. Masing-masing dari kita adalah penulis kisah hidup kita sendiri. ‘Broken home’ atau tidak, kita semua dapat dan berhak memiliki kehidupan yang baik. Tidak seorang pun harus bertindak seolah-olah kita tidak pantas menerimanya, bahkan diri kita sendiri.

Dan bukannya ketika kita masih kecil, orang tua, terutama ibu kita selalu mengatakan untuk hanya berpegang pada nilai-nilai baik dan membuang yang buruk? Begitu pula saya dan teman-teman dengan latar belakang ‘broken home’ itu. Saya rasa tidak ada orang tua yang menginginkan yang buruk pada anaknya. Ibu saya tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun; sebaliknya, dia mengingatkan saya bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. “Kamu menuai apa yang kamu tabur, baik atau buruk.”

Fakta bahwa Ibu dan Ayah memilih untuk tidak bersama-sama sepenuhnya di luar kendali kami, tetapi itu tidak berarti kami (terutama saya) akan mengikuti jalan mereka. Saya mungkin tidak tumbuh dalam keluarga yang utuh, tetapi saya akan berusaha sekeras yang saya bisa untuk tidak membiarkan itu terulang di masa depan.

Tim Penyunting

Baca Juga Artikel Sebelumnya : Dibalik Bonus Demografi Indonesia Selepas Sensus 2020

Biodata Singkat Penulis

Nama : Putri Milenia Gusdian

Prodi/Angkatan : Bimbingan dan Konseling / 2018

Asal : Kementrian Kajian Eksternal / Dirjen Pergerakan

Share This:
Categories: Artikel

1 Comment

Abu Minarohman · 06/05/2020 at 07:12

SANGAT TERHARU 🥺🥺😭😭

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *