Anomali Penerapan New Normal di Indonesia

Oleh : Ukhtina Al Mumtahanah

Universitas Tidar

Ukhtina.hanna@gmail.com

New Normal atau Normal baru akhir akhir ini menjadi tren di masyarakat Indonesia. Rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal telah diumumkan Pemerintah Indonesia dengan mempertimbangakan studi epidemiologis dan kesiapan regional. Normal baru didefinisikan sebagai skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Dilansir dari Sekretariat Kabinet (18/5/2020) Airlangga Hartato Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa Presiden mengaharapkan New Normal ini diimplementasikan dengan beberapan pertimbangan salah satunya daerah yang jumlah reproduksi virusnya kurang dari 1 (Rt<1) dapat menerapkan New Normal. Masyarakat dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dengan menerapkan protokol pencegahan penularan virus di setiap aktivitas yang melibatkan orang banyak.

Ada beberapa syarat menurut WHO yang harus dipenuhi setiap negara jika akan menerapkan New Normal. Konsep ini akan diterapkan selama vaksin COVID-19 belum ditemukan. Menurut Dr. Hans Henri P. Kluge Direktur Regional WHO untuk Eropa menyatakan bahwa “saat kami mempertimbangkan langkah transisi, kami mengakui bahwa tidak ada kemenangan yang cepat diraih. Komplesitas dan ketidakpastian ada didepan kita. Yang berarti bahwa kita memasuki periode dimana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat, meniadakan pembatasan sosial, dan membuka aktivitas sosial secara bertahap” dikutip dari situs resmi WHO.

Berikut merupakan ketentuan yang telah ditetapkan WHO sebelum pemerintah dalam suatu negara menerapkan konsep New Normal sebagai berikut :

  1. Bukti yang menunjukkan bahwa transmisi COVID-19 dapat dikendalikan.
  2. Kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.
  3. Menimalisir resiko penularan virus terutama di wilayah dengan kerentanan yang tinggi. Seperti di panti jompo, fasilitas kesehatan, dan tempat keramaian.
  4. Menerapkan langkah-langkah pencegahan di tempat kerja seperti Physical Distancing, fasilitas mencuci tangan, etika dalam bersin dan batuk, serta protokol pencegahan lainnya.
  5. Memantau dan memperhatikan dengan ketat risiko penularan impor dari wilayah lain.
  6. Masyarakat harus dilibatkan untuk memberikan masukan, berpendapat dalam proses masa transisi New N

Keenam point yang harus dipenuhi oleh negara yang akan menerapkan konsep New Normal. Namun Indonesia mengeluarkan kebijakan setidaknya memiliki 3 indikator sebagai syarat dalam menerapkan konsep New Normal. Hal ini disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasioanl, Suharso Manoarfa lewat keterangan pers pada Selasa (26/5/2020) mengklaim bahwa konsep penerapan New Normal di Indonesia merujuk pada WHO sebagai berikut :

  1. Tingkat penularan Corona Reproductive Time (Rt) atau reproduksi efektif di suatu wilayah harus di bawah 1 dan dihitung selama 14 hari.
  2. Kesiapan sistem New normal akan berlaku jika kapasitas dan adaptasi sistem kesehatan di Indonesia sudah mendukung untuk pelayanan COVID-19 yang bukan tidak mungkin akan naik jika Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan.
  3. Kemampuan pemerintah untuk mengetes virus Corona (surveillance) dengan jumlah target kapasitas 10.000-12.000 perhari.

Secara garis besar 3 indikator yang menjadi syarat penerapan konsep New Normal hampir sama dengan WHO.

Siapkah Indonesia Menerapkan New Normal?

Presiden Joko Widodo akhir-akhir ini mangajak masyarakat masyarakat untuk berdamai dengan COVID-19. Presiden juga menyebutkan akan mengerahkan aparat TNI/Polri di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota untuk penerapan New Normal. Keempat provinsi ini terdiri dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Gorontalo. Namun apakah 4 provinsi telah memenuhi syarat dalam menerapkan New Normal?

Salah satu syarat yaitu tingkat penularan Corona Reproductive Time (Rt) atau reproduksi efektif di suatu wilayah harus di bawah 1 dan dihitung selama 14 hari. Mengapa Rt harus di bawah 1? Jika Rt di atas 1.0, setiap infeksi akan menyebabkan lebih dari satu infeksi lain (virus menyebar dengan cepat). Sebagai contoh: Rt = 2 berarti satu pasien yang terinfeksi akan menulari rata-rata dua pasien lainnya. Jika Rt di bawah 1.0, setiap infeksi akan menyebabkan kurang dari satu infeksi lainnya, dan virus akan berhenti menyebar.

Berikut merupakan angka reproduksi efektif (Rt) dari 4 Provinsi.

Melihat dari angka reproduksi efektif (Rt) di atas sampai saat ini yang memiliki kriteria adalah Gorontalo dengan Rt 0,93. Angka reproduksi efektif (Rt) harus bertahan di bawah 1.00 hingga 14 hari sehingga dapat menerapkan konsep New Normal.

Indonesia Perlu Belajar dari Negara Lain

Korea Selatan merupakan salah satu negara yang telah menrapkan konsep New Normal. Selama 3 bula terakhir, Korea Selatan telah memperoleh banyak pujian atas cara negara tersebut secara efektif menghentikan virus Corona. Namun, pada 29 Mei 2020 pemerintah Korea Selatan mengumumkan secara resmi memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar hingga 14 Juni 2020.

Berdasarkan perbandingan kedua grafik kasus aktif antara Indonesia dan Korea Selatan, Korea Selatan berhasil menurunkan angka kasus infeksi virus Corona sehingga dapat menerapkan New Normal namun lain halnya dengan Indonesia yang pada grafik tidak menunjukkan penurunan kasus. Korea Selatan yang telah menerapkan konsep New Normal pada akhirnya mengalami gelombang kedua COVID-19. Maka, dengan ini Indonesia perlu mempertimbangkan kembali dalam menerapkan konsep New Normal.

Sampai pada saat ini COVID-19 belum ditemukan vaksin dan telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit. COVID-19 dapat memakan korban yang lebih banyak lagi apabila negara tidak memiliki kesiapsiagaan baik masyarakat maupun pemerintah, tidak dilatihnya tenaga kesehatan, dilengkapi dan dilindungi, serta warga negara yang tidak diberikan informasi dan diberdayakan berbasis bukti. Maka perlu untuk saling belajar dari negara-negara yang khususnya telah mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan sosial dan transisi ke fase selanjutnya.

Dalam setiap langkah menuju transisi New Normal harus siap dengan prinsip kesehatan masyarakat, bersama dengan pertimbangan ekonomi dan sosial. Saat inilah untuk menunjukan kepemimpinan yang responsif dan bertanggungjawab yang menjadi arah untuk kita bersama-sam melewati COVID-19.

Salam Bahagia!

 

Tim Editor

BEM KM UNY 2020

 

Daftar Pustaka :

Bonza. (2020). Melacak Penyebaran COVID-19: Memantau Angka Reproduksi Efektif. https://www.thebonza.com/dashboard/ di akses pada 19 Juni 2020.

Office of Assistant to Deputy Cabinet Secretary for State Documents & Translation. (2020). Gov’t to Implement the New Normal Scenario https://setkab.go.id/en/govt-to-implement-the-new-normal-scenario/ di akses pada 19 Juni 2020.

Sebayang, Rehia. (2020). Korsel Geger, Kala New Normal Buat Gelombang 2 COVID-19. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200529092015-4-161689/korsel-geger-kala-new-normal-buat-gelombang-2-covid-19 di akses pada 20 Juni 2020

Transition to a ‘new normal’ during the COVID-19 pandemic must be guided by public health principles. https://www.euro.who.int/en/about-us/regional-director/statements/statement-transition-to-a-new-normal-during-the-covid-19-pandemic-must-be-guided-by-public-health-principles di akses pada 19 Juni 2020.

Worldometer. (2020). COVID-19 CORONAVIRUS PANDEMIC https://www.worldometers.info/coronavirus/ di akses pada 19 Juni 2020

 

Share This:
Categories: Jendela Isu

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *